Proyek Rehabilitasi SMPN 3 Angkola Selatan Sarat Kejanggalan, CV Arulin Sejahtra Disorot

Tapanuli Selatan, jurnalpolisi.id

Proyek rehabilitasi ruang kelas di SMP Negeri 3 Angkola Selatan kembali menjadi sorotan setelah tim investigasi dari sejumlah media melakukan penelusuran lapangan pada Rabu, 15 Oktober 2025.

Temuan awal menunjukkan adanya dugaan kuat bahwa pekerjaan fisik di sekolah tersebut tidak sesuai dengan uraian dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Proyek ini diketahui dikerjakan oleh CV. Arulin Sejahtra, sebuah perusahaan konstruksi yang beralamat di Jalan Mustafa Harahap, Gang Padi, Kelurahan Aek Tampang, Padangsidempuan

Identitas perusahaan pelaksana ini semakin menarik perhatian setelah sejumlah temuan lapangan menunjukkan bahwa pekerjaan yang diselesaikan tidak sebanding dengan anggaran yang dialokasikan.

Kecurigaan atas ketidaksesuaian itu kemudian diperkuat melalui wawancara dengan narasumber bernama Galung pada Jumat, 14 November 2024, yang memaparkan berbagai kejanggalan dalam pelaksanaan proyek.

Proyek rehabilitasi yang menelan anggaran sekitar Rp200 juta itu, menurut Galung, tampak dikerjakan secara asal-asalan.

Kondisi bangunan yang ditampilkan dalam video dokumentasi menunjukkan banyak komponen yang semestinya dikerjakan justru tidak tersentuh sama sekali. Galung bahkan memperkirakan nilai realisasi fisik di lapangan tidak mencapai separuh dari total anggaran.

“Kalau melihat pekerjaan yang ada sekarang, saya taksir hanya sekitar Rp45 juta yang benar-benar dikerjakan. Sisanya entah ke mana,” ujarnya.

Dalam rekaman video yang diperoleh awak media, tampak sejumlah item pekerjaan yang tertera dalam dokumen RAB mulai dari pemasangan daun pintu panil, daun jendela kaca, kunci tanam, engsel pintu dan jendela, grendel, hingga pemasangan jerjak jendela dan pintu tidak ditemukan hasil pengerjaannya.

Komponen lain yang seharusnya menjadi bagian penting dari rehabilitasi, seperti pemasangan kaca polos 5 mm, perbaikan rangka baja, pemasangan listplank, hingga langit-langit triplek, juga tampak menghilang tanpa jejak.

Yang terlihat justru kondisi ruang kelas yang tidak banyak berubah selain lapisan cat baru dan sedikit perbaikan pada bagian lantai.

Galung menegaskan bahwa prioritas utama rehabilitasi ruang kelas semestinya difokuskan pada perbaikan struktur dinding yang mengalami keretakan.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Dinding ruang kelas justru tampak tetap retak, tanpa tanda-tanda pengerjaan atau penambalan yang memadai.

“Yang paling mendesak seharusnya adalah dinding. Itu yang menopang keselamatan dan kenyamanan siswa. Tapi yang terjadi hanya pengecatan dan perbaikan ringan. Jelas ini tidak sesuai dengan kebutuhan dan tidak sejalan dengan RAB,” kata Galung.

Kondisi tersebut memunculkan dugaan kuat bahwa proyek ini dikerjakan tanpa memperhatikan standar teknis, bahkan terkesan sengaja dipangkas untuk menutupi ketidaksesuaian penggunaan anggaran.

Dengan nilai proyek yang mencapai ratusan juta rupiah, hasil pekerjaan yang ditemukan di lapangan sangat jauh dari apa yang seharusnya.

Melihat adanya ketimpangan antara nilai anggaran dan kualitas pekerjaan, Galung mendesak aparat penegak hukum untuk segera turun tangan.

Ia menilai penyimpangan semacam ini tidak bisa dibiarkan karena menyangkut penggunaan uang negara dan berdampak langsung pada fasilitas pendidikan bagi anak-anak.

“APH harus segera memeriksa. Ini bukan perkara kecil. Kalau dibiarkan, sekolah yang seharusnya diperbaiki malah dibiarkan rusak, sementara anggarannya menguap,” tegasnya.

Tim investigasi masih terus mengumpulkan dokumen tambahan, termasuk konfirmasi dari pihak sekolah, penyedia jasa, serta data progres pekerjaan. Laporan ini akan diperbarui seiring perkembangan temuan terbaru di lapangan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan tersebut.(P.Harahap)