Dana Desa Menyusut, Kepemimpinan Diuji: Hanya Kepala Desa Visioner yang Mampu Bertahan
Banyuwangi jurnalpolisi.id
Pengurangan Dana Desa bukan sekadar koreksi angka dalam tabel anggaran. Ia adalah cermin besar yang mendadak ditegakkan di hadapan wajah kepemimpinan desa. Dan seperti semua cermin yang jujur, tidak semua orang siap menatap pantulannya. Di sana tampak jelas: siapa yang berdiri tegak dengan gagasan, dan siapa yang selama ini hanya hidup dari belanja, bukan dari pikiran.
Saat uang melimpah, hampir semua tampak bekerja. Program berjalan, proyek bergulir, laporan menebal. Namun ketika anggaran menyusut, barulah terang siapa pemimpin dan siapa sekadar pengelola kas.
Selama bertahun-tahun, Dana Desa menjadi tongkat penyangga pembangunan: jalan dicor, gedung ditegakkan, bantuan dibagikan. Desa memang bergerak, tetapi sering kali bukan karena dituntun visi—melainkan karena diseret oleh dana. Maka ketika tongkat itu dipendekkan, langkah pun goyah. Pembangunan yang dulu berlari kini tertatih, bahkan ada yang jatuh tersungkur.
Berkurangnya Dana Desa sejatinya bukan bencana pembangunan, melainkan ujian kepemimpinan. Ia membuka panggung seleksi alam yang keras namun adil. Desa yang inovatif dan kreatif mungkin terguncang, tetapi tidak tumbang. Mereka mencari celah, membaca potensi, dan memutar otak. Sebaliknya, desa yang selama ini hidup dari rutinitas—mengulang kegiatan yang sama dari tahun ke tahun, menumpuk beton tanpa menumbuhkan kemandirian—tampak panik dan kebingungan, seolah kehilangan arah begitu angka dipangkas.
Di titik ini, kepala desa diuji bukan dari tebalnya laporan serapan anggaran, melainkan dari tajam-tumpulnya gagasan. Kepala desa yang rajin menghabiskan uang negara, namun enggan berpikir bagaimana desa bisa menghasilkan pendapatan sendiri, kini kelimpungan. Fakta sederhana pun terbuka: tidak semua yang pandai belanja mampu bekerja. Tidak semua yang rajin membagi bantuan memahami cara mencipta sumber penghidupan.
Bantuan sosial tentu penting. Ia adalah wujud kehadiran dan empati negara. Namun desa bukan panti belas kasihan yang hidup dari pemberian abadi. Desa harus beranjak dewasa—belajar menghasilkan, bukan sekadar menghabiskan. Desa membutuhkan pendapatan, bukan hanya proposal; membutuhkan usaha, bukan sekadar harapan. Tanpa itu, desa akan selamanya menjadi tangan yang menadah, bukan tangan yang mencipta.
Padahal semangat Undang-Undang Desa sudah sangat jelas: kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Sayangnya, semangat itu kerap terkubur oleh kenyamanan. Lebih mudah membagi daripada membangun, lebih ringan menghabiskan daripada merancang, lebih aman mengikuti pola lama daripada mengambil risiko inovasi. Dana Desa pun sering diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai alat.
Kini, pengurangan Dana Desa datang seperti lonceng keras di tengah tidur panjang. Ia memaksa desa dan para pemimpinnya terbangun. Kenyataannya pahit namun tak terbantahkan: kepemimpinan tanpa visi akan tersingkir dengan sendirinya. Desa yang dipimpin tanpa arah akan berjalan di tempat, bahkan mundur. Sebaliknya, kepala desa yang visioner akan menjadikan keterbatasan anggaran sebagai tantangan—pemicu kreativitas, bukan alasan untuk meratap.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa besar Dana Desa yang dihabiskan seorang kepala desa. Sejarah hanya akan mengingat satu hal: apakah ia meninggalkan desa yang bergantung, atau desa yang berdaulat.(Boby)
Penulis : Hamadin Moh.Nurung
