Hukum Gravitasi Moral: Metafora Mandi Sang Jenderal
Jakarta – jurnalpolisi.id
Ucapan Jenderal Hoegeng bukan sekadar tips birokrasi; itu adalah pengakuan terhadap Hukum Gravitasi Moral. Sebagaimana air yang selalu patuh pada gravitasi untuk mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, demikian pula watak sebuah bangsa mengalir dari perilaku pemimpinnya.
Berikut adalah tiga dimensi filosofis dari metafora tersebut:
- Hulu yang Keruh Tak Akan Menghasilkan Hilir yang Bening
Secara ontologis, “kepala” atau bagian “atas” adalah pusat kesadaran dan kendali. Jika mata tersabun atau pikiran kotor, maka tangan dan kaki akan bergerak tanpa arah.
Dalam konteks negara, rakyat dan birokrat rendahan adalah cerminan (refleksi) dari elitnya. Memaksa bawahan untuk jujur sementara atasan sibuk memperkaya diri adalah sebuah paradoks eksistensial. Kita tidak bisa menuntut bayangan untuk lurus jika benda yang memantulkannya bengkok. - Keterbatasan Sapu yang Kotor
Filosofi mandi mengajarkan kita bahwa alat pembersih (air dan sabun) harus lebih suci daripada objek yang dibersihkan.
Ketika korupsi hendak dibersihkan, namun “sapu” yang digunakan (aparat penegak hukum atau pemimpin) itu sendiri kotor, maka proses pembersihan itu hanyalah ilusi. Alih-alih membersihkan, gesekan yang terjadi justru menyebarkan kotoran ke area yang lebih luas. Ini menciptakan apa yang disebut lingkaran setan hipokrisi—dimana hukum ditegakkan bukan untuk keadilan, tapi untuk menutupi jejak kotoran di bagian atas. - Rasa Sakit dari Sebuah Integritas
Mandi itu proses meluruhkan daki. Ada gesekan, ada rasa perih jika terkena luka, dan ada dingin yang menusuk.
Hoegeng memahami bahwa membersihkan diri dari “atas” itu menyakitkan. Itu menuntut pemimpin untuk mematikan ego, menolak kenyamanan (gratifikasi), dan siap dikucilkan karena “terlalu bersih” di tengah lingkungan yang kumuh. Membersihkan diri dari atas berarti siap “telanjang” tanpa perlindungan privilege, membiarkan diri diperiksa dan dikuliti oleh standar moral yang paling ketat.
Renungan Akhir
Membersihkan dari bawah itu mudah, karena yang di atas memegang kuasa untuk menghukum. Tapi membersihkan dari atas itu sulit, karena membutuhkan penaklukan diri.
Negara ini tidak kekurangan orang pintar yang bisa merumuskan undang-undang anti-korupsi. Negara ini kekurangan orang yang berani mengambil gayung pertama, menyiram kepalanya sendiri, dan berkata: “Lihat, saya sudah bersih. Sekarang giliran kalian.”
Itulah esensi sunyi dari jalan pedang seorang Hoegeng. Lhynaa Marlinaa”.
(Boby)
