Napak Tilas Sejarah Galuh Sosok Pangeran Arya Natareja & Penegasan Genealogo Kesultanan Cirebon: Merawat Ingatan Sejarah Nusantara
Ciamis – Cirebon, jurnalpolisi.id
Januari 2026 Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon kembali menegaskan komitmennya dalam merawat, meluruskan, dan mengedukasi sejarah Nusantara melalui kegiatan Napak Tilas Sejarah Galuh dan Safari Silaturahmi Kebudayaan yang dilaksanakan pada Sabtu, 24 Januari 2026, di wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon, yang juga dikenal sebagai Pangeran Kuda Putih.

Napak tilas dilakukan di Situs Gunung Galuh, Sindangrasa, Kabupaten Ciamis, sebuah kawasan sakral yang memiliki peran penting dalam sejarah pemerintahan, spiritualitas, dan peradaban Galuh. Situs ini menyimpan makam tokoh-tokoh besar, di antaranya Pangeran Arya Natareja Muhammad Syattariah, ulama dan pemimpin spiritual yang memiliki hubungan genealogis langsung dengan Kesultanan Cirebon.
Penegasan Genealogi & Bukti Otentik Keraton
Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon menegaskan bahwa Pangeran Arya Natareja adalah Putra Mahkota Sultan Sepuh III Raja Jaenudin I. Secara adat dan garis suksesi, beliau adalah figur yang seharusnya menduduki tahta sebagai Sultan Sepuh IV dengan gelar Jaenudin II Arianatareja.
Penegasan ini didasarkan pada:
- Arsip dan silsilah otentik Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon
- Tradisi lisan keluarga besar kesultanan
- Keterkaitan historis antara Cirebon dan Galuh dalam struktur kekuasaan Nusantara pra-kolonial
Saat ini, gelar Jaenudin II Arianatareja dilanjutkan dan digunakan oleh anak cucu beliau, yakni Sultan Sepuh Pangeran Kuda Putih, sebagai bagian dari kesinambungan adat dan legitimasi sejarah yang hidup.

Sejarah Sebagai Pilar Persatuan Bangsa
Menurut Sultan Sepuh, kegiatan ini bukan bertujuan membuka polemik, melainkan meluruskan sejarah secara beradab, ilmiah, dan bermartabat, agar generasi bangsa memahami akar peradabannya secara utuh.
“Sejarah tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk dijadikan cermin kebijaksanaan dan perekat persatuan bangsa,” ujar Sultan Sepuh.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan dialog kebudayaan, ziarah leluhur, serta kunjungan ke sentra ekonomi rakyat Durian Kujang Ciamis, sebagai simbol sinergi antara pelestarian budaya, sejarah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
