Pengalaman Perjuangan Membentuk Gaya Kepemimpinan yang Peduli Rakyat

JAKARTA – jurnalpolisi.id

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (PWDPI), M. Nurullah RS, tidak hanya dikenal sebagai pemimpin organisasi wartawan, tetapi juga sebagai aktivis reformasi tahun 1998 yang kini berperan aktif sebagai penggiat media sosial dalam menggerakkan perubahan.

Pengalaman sebagai aktivis pada masa reformasi menjadi pondasi kuat dalam menjalankan kiprahnya saat ini. Pada tahun 1998, Nurullah terlibat langsung dalam berbagai aksi masyarakat yang menuntut perubahan sistem pemerintahan, di mana ia menggunakan kemampuan berkomunikasi untuk menyebarkan informasi dan menyuarakan aspirasi rakyat yang terpinggirkan.

“Saat itu, kita bergantung pada koran cetak dan komunikasi langsung untuk menyebarkan pesan perjuangan. Pengalaman itu membuat saya menyadari betapa pentingnya peran media dalam membentuk opini publik dan mengawal keadilan,” ungkap Nurullah pada Rabu (3/1/2026).

Setelah reformasi, Nurullah memilih berkiprah di dunia pers dan akhirnya mendirikan beberapa media lokal sebelum kemudian terpilih sebagai Ketum PWDPI. Di bawah kepemimpinannya, ia menggerakkan organisasi untuk mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk memperkuat suara wartawan dan advokasi isu-isu rakyat.

Saat ini, Nurullah aktif mengelola akun media sosial pribadi dan resmi PWDPI di berbagai platform, termasuk Instagram, Twitter, dan YouTube. Konten yang dibagikannya tidak hanya mengenai perkembangan organisasi, tetapi juga menyuarakan isu-isu penting seperti perlindungan nelayan, hak-hak wartawan, dan kebijakan publik yang berdampak pada masyarakat.

“Media sosial adalah ruang baru untuk perjuangan. Kita bisa menjangkau jutaan orang dalam sekejap, asalkan kita mampu menyampaikan pesan dengan jelas, objektif, dan penuh empati terhadap rakyat,” jelasnya.

Lewat media sosialnya, ia telah berhasil menggerakkan kampanye #WartawanUntukRakyat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas liputan pers terhadap isu-isu masyarakat bawah dan mendorong transparansi kebijakan pemerintah. Kampanye ini telah mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk wartawan muda dan aktivis muda yang ingin belajar dari pengalaman perjuangannya.

Tak hanya itu, Nurullah juga sering mengadakan sesi edukasi daring tentang literasi digital dan jurnalistik bagi pemuda, khususnya mereka yang ingin berkiprah di dunia media sosial namun masih bingung mengenai etika dan standar profesionalisme.

“Pengalaman sebagai aktivis 98 mengajarkan saya tentang semangat perubahan, sedangkan media sosial memberikan saya alat untuk mewujudkannya di era sekarang. Harapannya, kita bisa menghasilkan generasi muda yang tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki komitmen untuk memperjuangkan kebaikan bersama,” pungkasnya.(Eneng Nur KS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *