Asal-Usul Desa Nusaherang: Jejak Leluhur Kesultanan Cirebon dan Kebangkitan Trah Asli Pangeran Arya Natareja

Cirebon jurnalpolisi.id

Desa Desa Nusaherang, yang terletak di wilayah Kuningan, Jawa Barat, bukanlah sekadar desa biasa. Ia adalah desa keramat, sebuah tapak sejarah yang menyimpan denyut panjang perjalanan bangsawan Nusantara, khususnya dari trah Pajajaran dan Kesultanan Cirebon. Dari desa inilah mengalir kisah para leluhur besar yang membentuk peradaban, kepemimpinan, dan spiritualitas masyarakat Cirebon dan sekitarnya.

Jejak Awal: Pangeran Cakrabuana dan Warisan Pajajaran

Sejarah Nusaherang tak bisa dilepaskan dari sosok Pangeran Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran. Dalam perjalanan dakwah dan pembukaan wilayah, Pangeran Cakrabuana menapaki daerah-daerah pedalaman Jawa Barat, termasuk kawasan yang kini dikenal sebagai Nusaherang.

Wilayah ini menjadi bagian penting dari jalur spiritual dan politik transisi Pajajaran menuju era kesultanan Islam. Jejaknya masih terasa dalam berbagai situs tua, sumur keramat, dan makam para pangeran yang hingga kini dijaga oleh masyarakat setempat.

Sunan Gunung Jati dan Penguatan Islam di Nusaherang

Jejak berikutnya adalah Sunan Gunung Jati, cucu Prabu Siliwangi sekaligus pendiri dan penguat Kesultanan Cirebon. Melalui jaringan dakwah dan kekuasaan, Sunan Gunung Jati menanamkan nilai Islam, adat, dan tata pemerintahan yang berakar kuat di wilayah Kuningan.

Di Desa Nusaherang, tercatat makam-makam kerabat dan putra Sunan Gunung Jati, seperti Pasarean Pangeran Pasarean, yang menegaskan bahwa desa ini merupakan ruang penting dalam orbit spiritual dan genealogis Kesultanan Cirebon.

Pangeran Arya Natareja: Putra Mahkota yang Menyelamatkan Trah

Puncak sejarah Desa Nusaherang menguat pada kisah Pangeran Arya Natareja, putra mahkota Sultan Sepuh III Keraton Kasepuhan.

Pasca peristiwa tragis pembunuhan Sultan Matangaji akibat kudeta internal, Pangeran Arya Natareja terpaksa menyelamatkan diri demi menjaga kesinambungan trah sah Kesultanan. Ia memilih Desa Nusaherang sebagai tempat perlindungan, sekaligus awal kehidupan baru.

Di Nusaherang, beliau:

  • Menetap dan berkeluarga
  • Menjadi pemimpin lokal yang disegani
  • Mengembangkan Islam dan tata sosial
  • Menyimpan dan menyelamatkan pusaka, kitab tua, serta stempel plakat Sultan Cirebon

Langkah ini bukan pelarian, melainkan strategi sejarah untuk menjaga darah dan legitimasi trah Keraton Kasepuhan.

Nusaherang sebagai Desa Para Pangeran

Seiring waktu, Desa Nusaherang tumbuh sebagai desa para bangsawan. Banyak warganya bergelar Pangeran dan Raden, mencerminkan kesinambungan darah biru Cirebon–Pajajaran. Situs-situs seperti:

  • Makam Sela Sakti Sela Rasa
  • Makam Pangeran Singa Leksana
  • Makam Pangeran Singa Manggala
  • Makam Pangeran Pasarean (Putra Sunan Gunung Jati)
  • Pangeran Muhammad Motijah Arianatareja (Cucu Sultan Sepuh III Kasepuhan)
  • Makam Adipati Ukur
  • Situs Sumur Nusa dan Situhiang
  • Makam Cina abad ke-11 (marga Tjen/zhan/Chan/Tan)
  • Dll

menjadi bukti bahwa Nusaherang adalah simpul peradaban tua Nusantara.

Kebangkitan Trah Asli: Pangeran Kuda Putih

Berabad-abad kemudian, sejarah itu seakan menemukan takdirnya kembali dengan munculnya Sultan Sepuh Jaenudin II Arianatareja, yang dikenal luas sebagai Pangeran Kuda Putih.

Beliau adalah:

  • Trah asli Pangeran Arya Natareja
  • Berdarah Desa Nusaherang
  • Putra dari Pangeran Yunus Sanusi (trah pancer Pangeran Cakrabuana)
  • Putra dari Raden Ayu Tuti Rutiana, trah Sunan Gunung Jati dari jalur Sultan Sepuh III Raja Jaenudin

Sebagai Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan, beliau dikenal sebagai sosok murah senyum, low profile, bijaksana, dan sangat dicintai masyarakat adatnya.

Di tingkat nasional, beliau dipercaya menjadi Ketua Lembaga Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DANRI) dan diangkat secara aklamasi oleh para Raja dan Sultan Nusantara dengan gelar Dipertuan Agung—sebuah pengakuan atas legitimasi sejarah, moral, dan kepemimpinannya.

Penutup: Desa Keramat, Rahim Para Bangsawan

Dengan demikian, Desa Nusaherang bukan sekadar wilayah administratif, melainkan rahim sejarah tempat lahir, bersemayam, dan bangkitnya para bangsawan besar Nusantara.

Dari Pangeran Cakrabuana, Sunan Gunung Jati, Pangeran Arya Natareja, hingga kini berlanjut pada Sultan Sepuh Pangeran Kuda Putih, Nusaherang adalah desa keramat, saksi kesinambungan trah Pajajaran dan Kesultanan Cirebon—sebuah warisan agung yang hidup, bukan legenda mati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *